Managing Director Instellar Invesment, Stephany Hermawan, memaparkan bahwa banyaknya perusahaan rintisan (startup) yang berguguran hingga saat ini disebabkan oleh dua kesalahan umum yang sering dilakukan. Kedua kesalahan ini membuat startup cepat merugi dan akhirnya gulung tikar.
1. Ekspansi Terlalu Cepat (Premature Scaling) Penyebab utama startup gagal adalah karena melakukan ekspansi yang terlalu cepat (premature scaling) sebelum waktunya. Ekspansi prematur ini mengakibatkan penggunaan sumber daya menjadi berlebihan dan tidak efisien, melebihi kapasitas operasional yang sebenarnya dimiliki perusahaan. Selain itu, startup yang melakukan premature scaling tidak jarang menyimpang dari misi awalnya sehingga kehilangan arah dan tujuan bisnis utama mereka.
2. Ketergantungan pada Pendanaan Eksternal Kesalahan krusial berikutnya adalah terus-menerus mengandalkan pendanaan eksternal untuk mendorong pertumbuhan yang sebenarnya tidak berkelanjutan (unsustainable growth). Ketergantungan yang tinggi ini membuat startup menjadi sangat rentan saat memasuki masa sulit di mana pendanaan eksternal mengalami kesulitan atau terhenti. Kondisi ini dapat memicu krisis keuangan, kehabisan kas, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga berujung pada penutupan usaha.
Sebagai alternatif, Stephany Hermawan menyarankan pendekatan model bisnis Zebra. Model bisnis Zebra berfokus pada menjalankan usaha yang nyata dengan dampak positif bagi sosial dan/atau lingkungan, serta memastikan bisnis tersebut berkelanjutan secara keuangan dan memiliki arus kas positif. Menurutnya, model Zebra lebih relevan untuk Indonesia yang merupakan negara agraris dan brick and mortar, dibandingkan dengan model Unicorn yang dipaksakan dari luar Silicon Valley.
Sumber: https://money.kompas.com/read/2025/10/02/142700026/ternyata-ini-alasan-banyak-startup-gulung-tikar
