Sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Dallas, Amerika Serikat, Colossal Biosciences Inc., berambisi untuk mengembalikan badak putih utara dari ambang kepunahan dalam waktu sekitar empat tahun ke depan. Perusahaan yang memiliki valuasi mencapai 10 miliar dolar AS ini dikenal dengan tujuan ambisiusnya untuk menghidupkan kembali hewan-hewan yang telah punah, seperti gajah mammoth. Kali ini, Colossal bekerja sama dengan peneliti dari Kenya, Jerman, Italia, dan beberapa negara lain, di bawah Konsorsium BioRescue, untuk menghasilkan badak putih utara ketiga di dunia. Upaya ini dilakukan untuk menyelamatkan subspesies yang kini secara fungsional telah punah, karena hanya tersisa dua badak betina, Najin dan Fatu, yang tinggal di kawasan konservasi di Kenya. Badak-badak ini tidak dapat bereproduksi secara alami.
Proses penyelamatan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini melibatkan teknologi rekayasa genetika dan penggunaan induk pengganti. Rencana ilmiahnya adalah menggunakan telur dari Najin dan Fatu, yang sudah melewati usia reproduksi optimal, dikombinasikan dengan sperma yang telah disimpan dari Sudan, badak jantan terakhir yang mati pada tahun 2018. Embrio yang berhasil diciptakan kemudian akan ditanamkan ke dalam rahim badak putih selatan, yang populasinya masih banyak di Afrika Selatan, sebagai induk pengganti. Namun, karena populasi badak putih utara telah menyempit, keragaman genetiknya sangat terbatas. Oleh karena itu, rekayasa genetika diperlukan untuk memperluas keragaman genetik dengan mengekstrak DNA dari sisa-sisa badak yang telah lama mati, bahkan hingga 100 tahun lalu, yang sampelnya diminta dari berbagai museum dan koleksi pribadi di seluruh dunia. Matt James, penanggung jawab hewan Colossal, menyebutnya sebagai “penyelamatan genetik sintetis,” yang bertujuan untuk secara buatan meningkatkan keragaman genetik. James juga mengingatkan bahwa mencegah kepunahan selalu lebih mudah dan murah dibandingkan mencoba membalikkannya, meskipun mereka sangat menyukai upaya de-extinction.
