Iklim bisnis modal ventura (MV) di Indonesia mengalami perubahan signifikan, dipicu oleh tekanan ekonomi global yang dikenal sebagai “Tech Winter.” Pergeseran ini memaksa investor MV untuk meninggalkan fokus investasi berisiko tinggi pada tahap awal (seed stage) dan beralih mencari perusahaan rintisan (startup) di tahap pertumbuhan (growth stage) yang menawarkan jalur profitabilitas yang lebih jelas. Ketua Umum Amvesindo, Eddi Danusaputro, membenarkan strategi baru ini, menjelaskan bahwa meskipun pendanaan tahap awal masih ada, fokus utamanya kini adalah kepada startup yang telah membuktikan potensi profit atau setidaknya memiliki peta jalan keberlanjutan yang teruji. Pendanaan di early stage kini dianggap lebih riskan, sementara startup di growth stage memiliki risiko yang lebih terkendali.
Perubahan strategi ini juga ditegaskan oleh Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, yang menyebut fenomena global ini terjadi dalam 12 bulan terakhir dan mengubah prioritas modal ventura di Jakarta dan seluruh dunia. Pandu menambahkan, investor kini lebih tertarik pada tech growth daripada sekadar tech venture murni, mencari risiko yang lebih terukur, termasuk peluang besar dalam aplikasi Kecerdasan Buatan (AI) di Indonesia. Menariknya, di tengah penyesuaian strategi yang drastis ini, kinerja keuangan industri modal ventura secara agregat justru menunjukkan tren positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa hingga Kuartal III-2025, industri ini berhasil mencetak laba bersih yang meningkat pesat, didorong oleh peningkatan evaluasi portofolio perusahaan investee.
Kepala Eksekutif Pengawas OJK, Agusman, mencatat laba bersih industri mencapai Rp 474,4 miliar per September 2025. Selain laba yang menanjak, nilai penyaluran pembiayaan modal ventura juga tumbuh positif, mencapai Rp 16,29 triliun per September 2025, membuktikan bahwa meskipun iklim investasi lebih selektif, dana tetap mengalir ke sektor yang dianggap prospektif dan berkelanjutan.
Sumber: https://keuangan.kontan.co.id/news/perubahan-iklim-bisnis-modal-ventura-investor-beralih-ke-startup-berorientasi-profit
