Dinamika pendanaan startup di Indonesia telah mengalami pergeseran signifikan dalam tiga tahun terakhir, di mana investor kini jauh lebih selektif dan menaruh fokus utama pada fundamental bisnis yang sehat daripada sekadar narasi pertumbuhan yang cepat. Hal ini disampaikan oleh Edmund Carulli, seorang praktisi investasi dengan pengalaman delapan tahun di dunia Venture Capital (VC) dan dana kelolaan mencapai sekitar USD 150 juta, dalam sebuah sesi interaksi di Depok baru-baru ini.
Menurut Edmund, banyak startup yang gagal mendapatkan pendanaan bukan karena ide mereka tidak menarik, melainkan karena tidak lolos dalam proses due diligence yang ketat. Investor semakin menemukan kesenjangan serius pada aspek tata kelola atau governance yang lemah, unit economics yang tidak sehat, serta ketidakjujuran founder terkait integritas dan transparansi. Kasus-kasus besar di industri seperti eFishery dan TaniHub menjadi pelajaran penting yang mendorong investor untuk kembali pada dasar-dasar bisnis yang kokoh, sehingga growth story tanpa fondasi yang kuat kini dianggap tidak memadai untuk meyakinkan pasar modal ventura. Edmund juga menyoroti bahwa keputusan sebagian startup menolak pendanaan VC justru menunjukkan kedewasaan ekosistem, karena tidak semua model bisnis cocok dengan karakter VC money yang menuntut exit dan pertumbuhan agresif.
Bagi founder, ia menekankan pentingnya kesiapan matang sebelum bertemu investor, meliputi penyusunan dataroom yang rapi, pemahaman mendalam tentang metrik bisnis, serta kemampuan membangun relasi strategis yang jujur. Edmund menyimpulkan bahwa fundraising hanyalah sebuah katalis, dan prioritas utama setiap founder harus tetap pada membangun bisnis yang berkelanjutan dan sehat secara finansial.
Sumber: https://www.stapo.id/2026/01/edmund-ungkap-alasan-startup-sulit.html
