Living Lab Ventures Soroti Pergeseran Investasi Startup: Kolaborasi Strategis Kalahkan Modal Murni

BSD City, Fundhub.id — Lanskap investasi startup di Indonesia tengah mengalami pergeseran signifikan. Perusahaan rintisan kini tidak lagi hanya mengejar suntikan dana, tetapi mulai memprioritaskan investor strategis yang mampu menghadirkan kolaborasi bisnis, akses ekosistem, dan akselerasi pertumbuhan nyata.

Pandangan ini disampaikan Amalia Aini, VP of Fund Creation Living Lab Ventures (LLV), dalam acara Inside Living Lab Ventures yang digelar di Digital Experience Center, BSD City, Selasa (27/1/2026).

Menurut Amalia, pendekatan investasi berbasis kolaborasi telah menjadi DNA LLV dalam beberapa tahun terakhir, terutama sebagai Corporate Venture Capital (CVC) yang berafiliasi dengan Sinar Mas Land.

“Di atas pengembalian modal, kami juga mendapatkan nilai kolaborasi strategis. Startup yang kami danai bisa membantu menekan biaya, meningkatkan efisiensi, hingga membuka peluang bisnis baru di dalam grup,” ujar Amalia.

Strategi ini, lanjut Amalia, menjawab kebutuhan startup yang semakin sadar bahwa modal tanpa ekosistem justru menjadi beban. Startup membutuhkan investor yang dapat membuka akses pasar, mitra korporasi, dan potensi pendapatan berkelanjutan.

Investor Strategis Jadi Pilihan Startup

Amalia menegaskan bahwa perubahan ini tidak hanya datang dari sisi investor, tetapi juga dari perspektif startup itu sendiri.

“Startup sekarang lebih memilih memiliki investor strategis dibandingkan pure capital investor. Uang itu berat. Kalau sudah ambil dana, seharusnya juga ada nilai tambah—entah dari koneksi, pasar, atau kolaborasi bisnis,” katanya.

Sebagai contoh, LLV menjalin kemitraan dengan Spiral Ventures, venture capital yang dikenal berorientasi pada imbal hasil finansial. Namun dalam praktiknya, Spiral Ventures melihat nilai jangka panjang dari model investasi strategis berbasis kolaborasi korporasi.

Minat serupa juga datang dari berbagai perusahaan, termasuk korporasi lintas sektor yang melihat investasi startup bukan lagi sekadar portofolio keuangan, melainkan alat transformasi bisnis.

Jepang Cari “Growth Repair”, Indonesia Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Dalam panel yang sama, Partner Spiral Ventures, Irawan Ganda, mengungkapkan bahwa arus investasi Jepang ke Indonesia didorong oleh masalah struktural domestik, bukan semata peluang pasar.

Jepang, kata Irawan, tengah menghadapi populasi yang menua dan menyusut, sehingga membutuhkan sumber pertumbuhan baru di luar negeri.

“Jepang punya masalah struktural—populasi menurun dan menua. Mereka melihat Indonesia sebagai a sexy market: populasi muda besar dan adopsi teknologi sangat cepat,” jelasnya.

“Indonesia sudah mengimplementasikan pembayaran QR sejak 2016. Sementara PayPay di Jepang baru diluncurkan sekitar 2018–2019,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Indonesia dipandang sebagai ‘growth repair’—mesin pemulihan pertumbuhan—bagi perusahaan dan investor Jepang yang menghadapi stagnasi domestik.


Digital Bukan Tujuan, Kinerja Bisnis yang Utama

Sementara itu, Operating Partner Living Lab Ventures, Widyasari Prasetyo, menegaskan bahwa digitalisasi tidak boleh berhenti pada inovasi kosmetik. Transformasi digital, menurutnya, harus berdampak langsung pada kinerja bisnis inti.

“Digital is not the goal. Better performance adalah goal-nya,” tegas Widyasari.

Ia mengungkap bahwa LLV sempat mengalami fase trial-and-error sejak 2021 hingga 2024, termasuk mengembangkan berbagai produk digital yang gagal melewati tahap proof of concept (POC).

“Kami pernah bikin aplikasi QR order restoran, smart advertising, tapi tidak jalan. Itu murni karena kami ingin ‘punya digital’, bukan karena kebutuhan core business,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, LLV menyimpulkan bahwa venture building hanya akan berkelanjutan jika mampu mengamplifikasi siklus bisnis utama—mulai dari pembangunan, penjualan, pengelolaan kawasan, hingga operasional kota.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *