Indonesia Fintech Society (IFSoc) merangkum dinamika industri fintech sepanjang tahun 2025, menyoroti lanskap yang semakin kompleks di mana inovasi berhadapan langsung dengan tantangan struktural. Evaluasi ini dilakukan dalam Catatan Akhir Tahun IFSoc yang berlangsung di Jakarta Selatan, Jumat (19/12), bertujuan untuk mengevaluasi kinerja sektor yang vital bagi inklusi keuangan nasional. Meskipun tingkat inklusi keuangan telah mencapai 80,51%, IFSoc, melalui Anggota Dewan Komisioner OJK Tirta Segara, menyoroti adanya kesenjangan signifikan 14,05% dengan literasi keuangan yang baru 66,46%.
Gap ini secara langsung membuka ruang lebar bagi penipuan digital atau fraud, yang dilaporkan telah menyebabkan kerugian fantastis mencapai Rp8 triliun berdasarkan 360.541 laporan yang diterima IASC hingga November 2025. Di sisi lain, layanan pinjaman daring atau pindar dinilai tetap relevan secara strategis, khususnya dalam menjangkau kelompok unbanked dan under yang masih tinggi di Indonesia, dengan outstanding pinjaman mencapai Rp87 triliun per September 2025, meski layanan ini menghadapi sorotan dugaan kartel suku bunga. Sementara itu, sistem pembayaran menjadi sektor paling progresif, di mana perluasan QRIS lintas negara ke Malaysia, Singapura, dan Jepang, disusul negosiasi dengan India dan Arab Saudi, menjadikan QRIS instrumen strategis yang mendorong dedolarisasi transaksi domestik dan mencapai nilai transaksi domestik hingga Rp959,7 triliun.
Namun, tantangan terbesar lainnya adalah lemahnya tata kelola perusahaan teknologi yang, menurut Direktur BNI Ventures Eddi Danusaputro, telah menekan kepercayaan investor, menyebabkan Indonesia hanya mencatat sekitar 4% dari total nilai pendanaan startup regional pada paruh pertama 2025. Untuk memitigasi risiko ini dan memulihkan minat pasar, IFSoc menekankan urgensi implementasi standar tata kelola yang jelas melalui maturation map bagi startup.
Sumber: https://katadata.co.id/digital/fintech/69460a3cbe8b1/catatan-fintech-2025-dari-pindar-hingga-qris-mendunia-risiko-fraud-mengintai
